Pagi itu tampak seperti hari-hari biasanya dengan langit biru cerah yang menutupi kampus ini. Hari itu aku ada kelas yang harus aku ikuti. Ketika aku berjalan menuju ruangan, suara yang sudah tak asing lagi bagiku menghampiri telingaku, "Hei bro gimana kabar hari ini?”.Dia adalah Erni sahabat baikku karena kami telah berteman sejak SMA. Erni adalah orang yang sangat suka dalam bergaul dan sangat ramah oleh karena itu dia memiliki teman yang sangat banyak dikampus, berbeda denganku yang sedikit cuek dan dingin. Baik bro!” jawabku sambil merangkul pundaknya. Kami berduapun berlalu menuju kelas kami yang akan segera dimulai 15 menit lagi. Sesampainya di ruangan kami berdua berpisah.
Aku mengambil tempat duduk yang paling belakang. Sedangkan Erni memilih bangku yang paling depan, tak heran karena dia adalah anak yang pintar dan disenangi oleh setiap dosen.
“Hey ni, bagaimana tugas kelompok kita?” Elin yang merupakan teman sekelas ku menghampiri Erni dan menayainya. “Aku belum menyelesaikannya, bagaimana jika kita selesaikan hari ini?” jawb Erni
“Baiklah kalau begitu kita selesaikan di kostku selepas ruangan ini” Elin menimpali.Setelah kelas usai, kami semua meninggalkan ruangan dengan wajah yang gembira. Termasuk aku yang sedari tadi ingin segera keluar dan menuju kantin. Ketika aku ingin pergi ke kantin, Erni dan Elin menahanku. “Eitt, mau kemana? ingat tugas kelompok kita gak?” kata Elin. “Tugas lagi tugas lagi kalian berdua kan bisa menyelesaikannya,” jawabku sedikit kesal.
Mendengar jawabanku, Erni merasa kesal dia pun sedikit membentakku, “Kau harus lebih bertanggung jawab sedikit akan tugasmu, jangan seperti ini!" ”Aku tidak peduli!” Erni semakin marah kepadaku, mungkin ini adalah kemarahannya yang terbesar semenjak kami berteman. “Kau sendiri kan bisa menyelesaikannnya, kau kan si pintar sedangkan aku si bodoh!” “Kenapa kau berbicara seperti itu? ada apa denganmu? kau seperti bukan teman yang aku kenal!” jawab Erni dengan nada tinggi. “Baiklah kalau begitu, anggap saja aku bukan orang yang kau kenal!” kami berdebat cukup lama. Elin yang sejak tadi terdiam pun mulai berbicara karena suasana semakin memanas. “Kalian berdua hentikan, Jangan berbicara seperti itu.
Kalian berdua kan sahabat sejati” Elin melerai dan menasehati kami. Aku yang sudah tidak peduli dengan itu semua pergi meninggalkan mereka berdua dengan emosi yang masih membara. Saat aku naik tangga pergi ke ruangan GUB 207 tiba-tiba kaki ku keseleo.
Ketika itu juga aku melihat Erni dan Elin di sampingku. “Apa kau baik-baik saja?” Tanya Erni
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Erni. “Iya aku baik!” jawabku dengan penuh sesal. Aku pun meminta maaf kepada Erni dan Elin atas tingkahku hari ini dan berjanji akan lebih bertanggung jawab atas kewajibanku. Untung saja Erni mau memaafkanku dan kami berdua kembali berteman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar